Selain menjadi sarana ibadah kegiatan ini juga mempererat ukhuwah Islamiyah antar sesama
Yaser
BANGKA BARAT – Tradisi Ziarah Kute Seribu kembali menjadi magnet bagi ribuan umat Muslim yang memadati kawasan Tempat Pemakaman Umum Keramat, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Sabtu (30/5/2026).
Kegiatan yang telah diwariskan secara turun-temurun ini tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat ikatan sosial serta menjaga warisan sejarah Islam di Negeri Sejiran Setason.
Rangkaian Ziarah Kute Seribu diawali dengan pembacaan Burdah, Tasmiah, dan Qasidah di Masjid Kampung Tanjung, Kecamatan Mentok. Selanjutnya para peserta mengikuti arak-arakan menuju kawasan makam Keramat untuk melaksanakan doa bersama dan ziarah kubur.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa arwah, Surah Yasin, tahlil, tausiyah agama, pembacaan kitab Simtudduror, hingga makan bersama yang dipusatkan di Masjid Jami Mentok.
Tradisi yang juga dikenal masyarakat dengan sebutan Haul tersebut bertujuan mendoakan para tokoh yang dimakamkan di kawasan pemakaman Keramat, di antaranya Habib Hamid bin Abdurahman Assegaf, Habib Hud bin Muhammad Assegaf, Habib Syatho, Wan Abdul Jabar, Abang Pahang, Abang Ismail, serta Abang Muhammad Toyib.
Wakil Bupati Bangka Barat, Yus Derahman, mengatakan Ziarah Kute Seribu merupakan salah satu bentuk legitimasi bahwa Bangka Barat memiliki kekayaan budaya yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
"Ziarah Kute Seribu bertujuan untuk mendoakan Habib Hamid bin Abdurahman Assegaf, Habib Hud bin Muhammad Assegaf, Habib Syatho, para tokoh agama Islam, para pendiri Kota Mentok, serta kepala pemerintahan Pulau Bangka pada masa silam yang dimakamkan di lokasi ini," ujarnya, Sabtu (30/5/2026).
Tradisi tahunan tersebut menjadi momentum penting untuk mengenang jasa para ulama, tokoh agama, pendiri Kota Mentok, serta para pemimpin terdahulu yang memiliki kontribusi besar dalam perjalanan sejarah Bangka Barat.
Melalui ziarah ini, diharapkan nilai-nilai kebaikan yang telah diwariskan dapat terus menjadi suri teladan bagi generasi sekarang dan yang akan datang," katanya.
Menurut Yus, kegiatan tersebut tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah serta memperkuat hubungan antara ulama, umara, dan masyarakat.
"Selain menjadi sarana ibadah, kegiatan ini juga mempererat ukhuwah Islamiyah dan memperkuat hubungan antara ulama, umara, serta masyarakat," ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat sendiri telah memasukkan Ziarah Kute Seribu sebagai salah satu ritus dalam Objek Pemajuan Kebudayaan yang perlu dijaga dan dilestarikan. Tradisi tersebut dinilai memiliki nilai historis, budaya, dan keagamaan yang kuat serta menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Mentok.
Selain menjadi wadah pelestarian budaya, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi yang mempertemukan jamaah dari berbagai daerah, termasuk rombongan dari Palembang dan sejumlah wilayah lainnya.
Kehadiran para peziarah dari luar Bangka menunjukkan bahwa tradisi Ziarah Kute Seribu memiliki daya tarik tersendiri sebagai warisan budaya Islam yang terus hidup di tengah masyarakat.